Sabtu, 29 Februari 2020

resensi buku, komunitas alternatif




RESENSI BUKU
Komunitas alternatif, Hidup Bersama Menebarkan Kasih
Henri J.M.Nouwen & Jean Vanier.Mgr.I.Suharyo,Pr (editor) Malang: Penerbit Kanisius, 1998.
Halaman: 78
ISBN 979-672-225-9
Ditinjau oleh: Alfresius Ngese Doja
Postulat Stella Maris Malang


Dalam buku ini dibagi menjadi dua sub tema yakni komunitas dan keheningan sebagai pusat Hidup komunitas yang menyuburkan, pada tema yang pertama ada beberapa hal yang menjelaskan mengenai komunitas. Komunitas adalah tempat kita mengalami rasa sakit karena karena komunitas adalah tempat kita mengalami kehilangan, konflik, dan kematian. Tetapi komunitas adalah juga tempat kita mengalami kebangkitan. Komunitas adalah tempat konflik maksudnya konflik yang terdapat dalam diri kita masing-masing. Pertama-tama konflik antara nilai-nilai dunia dan nilai-nilai komunitas, antara kebersamaan dan ketidaktergantungan. Komunitas juga menuntut orang mati terhadap diri sendiri, agar para anggota dapat berkembang menjadi satu, menjadi milik satu sama lain tetapi tidak secara tertutup.persatuan itu menjadi sedemikian rupa sehingga setiap orang berkembang dalam kemerdekaan batinnya.
Buku ini baik dibaca untuk mereka yang mengalami hidup berkomunitas seperti para postulat karena dengan demikian akan memahami prinsip-prinsip dalam hidup berkomunitas sehingga kita dapat menemukan kebahagian dalam hidup berkomunitas. Seperti yang dijelaskan dalam buku ini bahwa komunitas adalah tempat orang saling memberi perhatian kepada orang lain. Dietrich Bonhoeffer berkata” orang yang mencintai komunitas menghancurkan komunitas; orang yang mencintai saudara-saudaranya membangun komunitas.” Komunitas bukanlah ideal abstrak. Kita tidak berjuang mati-matian untuk membangun komunitas yang sempurna. Komunitas bukanlah cita-cita, tetapi manusia dalam komunitas kita dipanggil untuk mencintai orang lain sebagaimana adanya, dengan luka-luka, kekurangan, dan kelebihanya, bukan sebagaimana yang kita kehendaki. Komunitas bukanlah sekelompok orang yang memandang orang lain dengan sikap menghukum dan menghakimi; komunitas bukanlah sekelompok orang yang senang dengan kekerasa. Komunitas adalah paguyuban hidup orang-orang yang percaya. Kalau hati mereka dipersembahkan kepada Allah, Allah akan menjadi kekuatan dan benteng hidup kita.
Orang yang menyerahkan diri adalah orang yang mudah terluka, mudah dijatuhkan, bahkan dihancurkan, seperti Yesus.  Suatu komunitas yang lebih percaya pada Allah dari pada kebenaran”perkaranya” sendiri selalu dapat diserang dan dihancurkan, tetapi kehancuran itu akan disusul kebangkitan. Ada kekuatan yang tersembuni dalam sikap yang terbuka, anti kekerasan dan rela dilukai; dalam sikap percaya dan berharap pada kebangkita karena yakin bahwa kita dicintai dan bahwa Allah menuntun kita; dalam kelemahan dan kekecilan kita. Kita bukanlah orang yang menganggap diri lebih baik. Kita bukanlah kelompok elit istimewa kita adalah orang yang miskin tetapi dihimpun oleh Allah dan mempercayakan diri kepadaNya. Inilah yang disebut komunitas kerajaan Allah.
Masuk dalam tema yang kedua penulis mulai menguraikan “keheningan sebagai pusat hidup komunitas yang menyuburkan” menurut penulis keheningan adalah tempat kita mengalami ikatan persaudaraan atau persahabatan(= intimitas) yang kuat dan mendalam, lebih dari pada ikatan yang dapat  terjadi ketakutan dan kemarahan. Dalam keheningan, kita menyadari bahwa komunitas tidak didirikan oleh manusia, melainkan dianugerahkan oleh Allah. Ketika kita berdoa sendiri, belajar, membaca atau menarik diri dari tempat-tempat kita secara jasmaniah berjumpa dengan orang lain, kita masuk dalam intimitas yang lebih dalam satu sama lain. Menurut penulis juga komunitas adalah hakiki bagi kehidupan komunitas karena didalamnya kita menemukan kesatuan atau ikatan yang sudah ada sebelum kita bertindak apa pun untuk mengusahakannya. Keheningan membebaskan kita dari tekanan rasa takut dan marah dan membuat kita mampu hadir ditengah-tengah dunia yang keras dan kasar sebagai tanda pengharapan dan sumber kekuatan.pendek kata keheningan menciptakan komunitas yang merdeka, yang membuat orang-orang yang melihatnya berucap,”lihat bagaimana mereka saling mengasihi.”
Dalam buku ini juga yang menurut pandangan saya yang unik yaitu ketika peulis menjelaskan panggilan bersama hal 60. panggilan pribadi tidak boleh dilawankan dengan panggilan bersama karena dalam keheningan kita dapat melihat cara-cara yang dapat kita tempuh untuk mengabdikan bakat-bakat pribadi kita dalam pelayanan bersama. Kita keliru kalaukita berpikir bahwa kita menemukan panggilan kita dalam bakat-bakat istimewa yang ada pada diri kita. Dalam keheningan kita mengambil jarak dari berbagai pilihan dan pikiran yang ditawarkan oleh saudara-saudara kita dan terbuka terhadap Allah. Dalam keheningan itu kita dapat mendengarkan Dia dengan penuh perhatian dan membeda-bedakan mana yang merupakan keinginan kita dan mana yang merupakan tugas kita; mana yang merupakan nafsu kita dan mana yang merupakan panggilan kita; mana yang merupakan harapan hati dan mana yang merupakan panggilan Allah. Singkatnya penulis mau mengatakan bahwa dalam komunitas keheningan merupakan bagian integral hidup sehari-hari, sehingga kita tidak tuli terhadap kehendak Allah dan terlalu memusatkan perhatian untuk mengerjakan” urusan-urusan saya sendiri”.dalam komunitas sepeerti ini kesadaran akan panggilan dan perutusan bersama menjadi kabur.
Sekali lagi buku ini sangat baik dibaca untuk para biarawan yang hidup dalam komunitas karena dengan membacanya kita akan menemukan hal-hal apa saja yang berkaitan dengan hidup bersama, sehingga kita tidak lagi terlalu memfokuskan diri pada pribadi kita tapi mengutamakan hidup berkomunitas yang jauh lebih penting tanpa mengurangi waktu untuk menyendiri. Dalam komunitas kataatan yang berarti mendengar panggilan Allah merupakan hal yang utama yang harus dijalankan oleh komunitas sebagai keseluruhan, dan tidak dapat disederhanakan menjadi sekadar hubungan antara para anggota dan pemimpin.ketaatan kepada pemimpin hanya dapat dialami sebagai penerimaan kehendak Allah kalau ketaatan itu dialami sebagai bagian integral sikap mendengarkan yang dilakukan oleh seluruh komunitas. Ketaatan seperti ini jelas tidak merupakan hal yang mudah. Ketaatan seperti ini adalah suatu gaya hidup. Dalam gaya hidup seperti itu, kita sebagai anggota komunitas terus menerus kembali masuk ke dalam keheningan agar semakin peka terhadap jalan-jalan yang digunakan oleh Allah untuk memanggil kita sekarang ini, pada tempat ini. Menurut saya buku ini memiliki sedikit berbeda dengan biasanya yakni tidak dijelaskan per bab melainkan dengan sub-sub teman yang hanya dibagi menjadi dua bagian besar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar